Berita

Jembatan Efri

 

Dia bukan Iwan Sunito, pemilik Crowne, perusahaan properti kelas atas  di Australia. Kelahiran Surabaya yang besar di Kalimantan itu, termasuk salahsatu diaspora (perantau dari dalam negeri yang tersebar di seluruh negara) yang sukses berbisnis di negeri orang. Ia juga bukan Iwan Bagus, fotografer profesional sekaligus profesor fotografi asal Indonesia yang kini menetap di Amerika Serikat. Efri Yoni Baekoeni, begitu nama lengkap pria asli Bukittinggi Sumatera Barat ini.

 

Sekilas tak ada yang terlalu istimewa dari penampilannya saat saya berjumpa dengan Efri. Ayah tiga anak ini, secara penampilan nyaris tidak berubah dari yang saya kenal pertama kali tahun 1996. Seperti peserta program pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada lainnya, tampil perlente dengan seragam lengkap jas cokelat plus dasi. Selama hampir seminggu, saat karantina di Cibubur, Jakarta Timur, saya satu kamar dengannya bersama empat rekan dari daerah lain.

 

Senin (12/2) lalu, akhirnya saya berjumpa kembali dengannya setelah hampir 19 tahun tak berjumpa. Kini ia menjadi staf ahli di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Tapi kali ini ceritanya bukan soal reuni berjumpa dengan kawan lama, tetapi, seperti pargagraf awal, Efri juga menjadi salahsatu diaspora Indonesia di luar negeri.

 

"Tahun 1999, selepas program, saya sempat mengajar Bahasa Inggris di salahsatu perguruan tinggi di Jakarta. Tetapi kemudian dapat panggilan dari departemen luar negeri untuk menjadi staf ahli di Brunei Darussalam. Maka saya berangkatla ke sana dan menetap di sana," ujar ketua Persatuan Masyarakat Indonesia (Permias) di Brunei itu.

 

Di negerinya Sultan Hasanal Bolkiah itu, Efri aktif berorganisasi sehingga ia bersama beberapa temannya berinisiatif untuk mengangkat sosok-sosok diaspora Indonesia yang sukses di negeri itu. "Kami membuat majalah dan salah satunya berisi tentang kisah sukses pekerja Indonesia di Brunei. Saya ingin mengabarkan kalau di Brunei, pekerja Indonesia itu tak hanya pekerja di bidang rumah tangga atau buruh konstruksi saja, tapi banyak juga yang sukses sebagai white collar worker," tuturnya seraya menyodorkan buku "Meraih Mimpi Ke Luar Negeri" yang merupakan kumpulan artikel dari 71 orang Indonesia sukses di Brunei.

 

Lulusan dari Universitas Andalas, Padang jurusan Sastra Inggirs tahun 1998 dan peraih gelar Doktor dari Universiti Brunei Darussalam ini menceritakan, jauh hari sebelum Brunei merdeka, peran diaspora Indonesia sudah terasakan di sana.

 

Tahun 1966, Dr. Badui Simanjuntak misalnya, ia sudah mendirikan sekolah setaraf SMA di sana. Lelaki Batak lulusan Oxford University, Inggris ini prihatin akan pendidikan di negara yang masuk dalam kekuasaan Inggris itu. (hal 39).

 

Cerita lain muncul di halaman 80 dari buku ini. Adalah Prof Iik Arifin Mansurnoor yang masuk ke Brunei tahun 1988 sebagai pengajar sejarah islam di Universiti Brunei Darussalam. Ia juga dipercaya kerajaan Brunei untuk mempelajari dan menysun sejarah islam di negeri itu langsung dari Kesultanan Brunei.

 

Tak hanya dari dunia pendidikan, Kusumayanti, perempuan Indonesia juga berhasil mempopulerkan jamu asli Indonesia di sana. Ia ayng ditugaskan Sari ayu, peusahaan jamu Indonesia untuk memperkenalkan produk-produknya, kini sukses 'mempengaruhi' warga asli Brunei untuk bersentuhan dengan jamu.

 

Kisah-kisah itu ada dalam buku yang disusun oleh Efri. Inilah buku keenam yang ditulisnya. Sebelumnya ia juga pernah meluncurkan buku perihal biografi Prof. Dr.Hasjim Djalal berjudul "Patriot Negara Kepulauan", Pandu Aksara (2014). Diplomat Indonesia yang juga pakar hukum kelautan itu ditulisnya lantaran punya jasa besar dalam kedaultanlaut-laut Indonesia. "Kebetulan juga saya kan satu daerah dengan beliau," sebut Efri seraya menjelaskan Hasjim Djalal, ayah dari Dino Patti Djalal (wakil menteri luar negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) juga berasal dari Buktitinggi, Sumatera Barat.

 

Efri sendiri adalah diaspora di Brunei dengan rupa-rupa tugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brunei. Setelah 15 tahun berkecimpung di sana, kini ia memilih untuk pulang kampung ke negeri sendiri. "Saya ingin membagikan pengalaman dengan teman-teman di Indonesia. Semoga buku ini bisa jadi semacam jembatan informasi buat siapa saja yang ingin mengetahui bahwa sekitar 40.000 pekerja Indonesia di sana itu tak semuanya bekerja di sektor informal," pungkasnya sambil menyodorkan undangan peluncuran bukunya itu, Kamis (16/2), bersamaan dengan perayaan ulang tahun Brunei di Jakarta yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Brunei Darussalam.

 

Semoga buku ini bisa jadi jembatan informasi....

 

(Fatmawati 2017)